Jelita melanjutkan, "Aku pernah menginap di rumah salah satu tetua lain. Putrinya adalah teman baikku, jadi aku sering berkunjung ke sana. Malam itu, aku bangun karena mendengar suara-suara aneh. Aku pergi ke aula utama, dan di sanalah aku melihatnya."

Melihat ekspresi serius Lynx, Jelita melanjutkan dengan nada lebih rendah. "Tetua itu sedang berbicara dengan seorang pria asing. Mereka berdiskusi tentang menyerahkan sesuatu yang berharga, sebuah batu yang mengkilap seperti bintang di malam hari. Batu itu adalah salah satu peninggalan leluhur kami, disimpan selama ratusan tahun sebagai rahasia suku Yaksa."

Lynx menyipitkan matanya. "Apa yang mereka bicarakan tentang batu itu?"

"Mereka bilang batu itu akan diserahkan kepada kelompok perampok yang telah lama menjadi ancaman di pulau ini. Nantinya mereka akan menyerahkan batu ini kepada suku Monrest. " Jawab Jelita pelan.

"Tetua itu mengatakan sudah sejak lama suku Monrest mencari batu tersebut dan curiga batu tersebut ada di suku Yaksa. Setelah sekian lama, tetua itu berhasil menemukannya dan secara diam-diam mengambilnya." Jelita berkata marah, "Tetua itu sudah melakukan pengkhianatan besar. Batu itu adalah warisan Yaksa, dan menyerahkannya sama saja menjual harga diri suku kami."

Jelita melanjutkan, suaranya penuh emosi. "Malam itu, aku mencuri batu itu. Aku tahu aku tidak bisa membiarkannya jatuh ke tangan mereka. Tapi aku tertangkap oleh tetua sebelum sempat melarikan diri. Dia marah besar, lalu memanggil penjaga kepercayaannya, dan menangkapku untuk diserahkan kepada para perampok karena sudah mengetahui rahasia mereka."

"Bagaimana selanjutnya?," kata Lynx.

Jelita melanjutkan ceritanya, air mata mulai mengalir di pipinya. "Keesokan harinya mereka membawaku dan menyerahkan aku bersama batu itu kepada perampok, untuk menghilangkan saksi. Aku ditangkap dan dibawa pergi. Tapi di tengah perjalanan, keributan terjadi. Beberapa orang menyerang rombongan perampok itu. Aku tidak tahu siapa yang melakukannya, tapi aku melihat kesempatan dan melarikan diri bersama batu itu."

Jelita menelan ludah, tangannya gemetar. "Saat melarikan diri, aku bertemu dengan rombongan yang sedang melarikan diri dari suku Monrest. Aku tahu batu itu tidak aman bersamaku, jadi aku memberikannya kepada salah satu wanita yang kabur tersebut agar tidak jatuh ke tangan mereka, dan kami berpisah. Aku berusaha mengalihkan perhatian para perampok."

Jelita melanjutkan kembali ceritanya. "Aku berharap dia bisa menjaganya. Tapi aku sendiri ditangkap lagi oleh perampok itu beberapa hari kemudian."

Lynx mendengarkan dengan seksama, merasa ada sesuatu yang lebih besar terkait batu tersebut. "Apa kau tahu di mana wanita itu sekarang?" tanyanya.

Jelita menggelengkan kepala. "Aku tidak tahu. Sejak kami berpisah, tidak pernah lagi bertemu dengannya. Aku hanya berharap dia masih hidup."

Lynx menarik napas panjang, menenangkan dirinya. Ia tahu bahwa batu itu mungkin lebih dari sekadar harta suku Yaksa. Bisa jadi, itu adalah kunci sesuatu rahasia yang besar karena terkait dengan suku Monrest, dan selama ini Suku Monrest selalu mencari batu tersebut.

"Kita akan menemukan jawabannya nanti," kata Lynx. "Untuk sekarang, kita harus keluar dari tempat ini. Kau harus kuat, Jelita."

Jelita menatap Lynx dengan tatapan penuh keraguan, namun juga sedikit harapan. "Kau sungguh akan menolong mereka semua... meskipun para perampok itu ada banyak?"

Lynx tersenyum kecil. "Itu pasti akan kulakukan. Percaya padaku, Jelita. Kita semua akan keluar dari sini, dan aku akan memastikan tidak ada lagi yang menyakitimu."

"Sebenarnya, aku sudah tidak berharap bisa keluar dari tempat ini. Kamu lihat wajahku, tubuhku!" Kata Jelita dengan sedih. Air mata kembali mengalir di wajahnya. "Aku sudah menjadi wanita buruk rupa. Aku malu untuk kembali. Aku berharap kamu bisa membebaskan yang lain dan membalas dendamku."

"Luka di tubuhmu masih bisa diobati. Aku yakin nenek Drona tahu cara memulihkan kecantikanmu. Kamu harus berusaha untuk tetap hidup." Kata Lynx berusaha menghibur dan memberikan semangat.

"Nenek Drona? Dari suku Sinto? Kamu mengenal mereka?" Tanya Jelita dengan penuh harap.

"Aku mengenal dan mengetahui keberadaan mereka. Apa kamu tahu nenek Drona?" Tanya Lynx penasaran.

"Tentu saja, dulu kami pernah saling bekerja sama. Suku Sinto menjual obat-obatan kepada kami, dan sebaliknya kami menjual hasil tangkapan di sungai kepada mereka." Kata Jelita sambil mengenang masa lalu. "Tapi karena menghindari Monrest, kami pindah mengungsi dan mencari tempat yang lebih aman. Sejak itu aku tidak pernah mendengar kabar mereka."

"Aku yakin dia bisa mengobatimu. Jadi kita harus berusaha memikirkan cara keluar dari sini." Kata Lynx.

Jelita merasa harapannya kembali. Kini, mereka hanya perlu menunggu waktu yang tepat untuk melarikan diri. Lynx tahu rencananya harus sempurna kali ini—tidak boleh ada kesalahan lagi.

Sementara itu, cukup jauh dari perkampungan perampok. Matahari yang tenggelam mewarnai sungai dengan rona emas, memantulkan sinarnya di perahu-perahu kecil milik suku Yaksa. Dermaga sederhana itu dipenuhi dengan penduduk suku yang berkumpul setelah mendengar kabar mendesak.

Tetua Ayunga, seorang pria tua dengan rambut putih panjang yang diikat rapi, berdiri di ujung dermaga. Wajahnya yang keras dan penuh tekad menjadi pusat perhatian. Di sebelahnya, istrinya, Sinta, tampak resah, tangannya menggenggam lengan seorang wanita muda dengan erat.

Seorang pria muda berlari dari arah hutan, napasnya tersengal-sengal. Ia berlutut di depan Ayunga, wajahnya penuh kelelahan dan debu.

"Tetua Ayunga!" serunya dengan nada mendesak. "Aku melihatnya! Putrimu, Jelita! Dia ada di perkampungan perampok. Mereka mengikatnya… mereka menyiksa dia!"

"Anakku!" Sinta berteriak, tubuhnya gemetar hebat mendengar kabar itu. Ia langsung kehilangan keseimbangan, jatuh pingsan ke lantai dermaga.

"Ibu!" Wanita muda di sebelahnya berteriak. Beberapa wanita mendekat untuk menolong Sinta, mencoba menyadarkannya.

Ayunga memekik marah, menggenggam lengan pria muda itu dengan kuat. "Apa yang kau katakan? Jelita? Dia… dia di perkampungan perampok?! Kapan kau melihatnya?"

Pria itu tergagap. "Aku… aku setelah menemukannya, Tetua. Dia… dia tampak sangat lemah. Aku segera kembali untuk membawa kabar ini."

"Anakku! Anakku sudah berminggu-minggu hilang, akhirnya aku menemukannya. Aku akan menghancurkan para perampok itu dan membebaskan anakku!" teriak Ayunga, suaranya penuh amarah dan kesedihan.

Seorang pria besar dengan suara menggelegar berjalan mendekat. Dialah Uban, kepala suku Yaksa, yang selama ini memimpin pencarian. "Tenang, Ayunga. Kita tidak bisa menyelesaikan ini dengan kepala panas."

"Tapi Jelita—"

Uban memotong dengan tegas. "Kita sudah mencari putrimu selama berminggu-minggu. Kau tahu aku mengerahkan orang ke seluruh desa, bahkan sampai ke pinggir wilayah Monrest. Sekarang kita sudah tahu dia dimana, kita harus memikirkan baik-baik cara menyelamatkan putrimu."

Penduduk mulai bergumam, mengingat pencarian yang panjang.

"Kami sudah mencarinya," ujar seorang lelaki tua. "Kami menyusuri sungai, mencari jejak. Kami mengira dia terseret arus…"

"Tapi tidak ada tanda-tanda," tambah yang lain. "Tidak satu pun."

Sinta, yang mulai sadar, menangis tersedu-sedu. "Jelita anakku satu-satunya. Bagaimana dia bisa hilang begitu saja? Apa salah kami hingga dia harus menderita seperti ini?"

Ayunga menghela napas panjang, menatap Uban. "Kepala suku, kau tahu aku selalu mendukung keputusanmu. Tapi sekarang, ini adalah darah dagingku. Kita harus bertindak. Kita tidak bisa menunggu lebih lama."

Wajah Uban mengeras. "Ini bukan hanya soal anakmu. Kita juga kehilangan harta suku kita!" Ia menatap para tetua yang berkumpul di dekatnya. "Batu dengan ukiran leluhur kita hilang pada saat yang sama. Itu bukan kebetulan!"

Seorang tetua lain angkat bicara. "Batu itu adalah simbol keberadaan kita. Itu adalah warisan dari leluhur suku kita. Kita sudah menyembunyikannya sejak lama. Jika sampai hilang, kita sangat bersalah dengan leluhur…"

"...Kita akan segera menemukannya," potong Uban dengan nada rendah tapi penuh makna.

Suasana menjadi tegang. Penduduk suku saling pandang, wajah mereka dipenuhi kecemasan.

"Dan sekarang," lanjut Uban, menatap Ayunga dengan mata tajam, "hilangnya putrimu mungkin berhubungan dengan batu itu. Kau belum menceritakan semuanya, Ayunga. Jelita pernah terlihat di sekitar tempat batu itu disimpan, bukan?"

Ayunga terdiam, menggenggam tangannya erat. "Dia tidak akan mencuri…"